Download lagu Aoi Eir - Innocence (full ver.)
Akhirnya setelah beberapa lama penantian terbayarkan #LOL . Tanpa basa-basi lagi silahkan download lagu
Aoi Eir - Innocence (full ver.) ini !
Aoi Eir - Innocence (full ver.) ini !
About me
Hi semuanya.. kali ini saya hanya ingin memperkenalkan diri kepada kalian semua para otaku. Nama saya Muhammad Fathur Nur'iman saya bersekolah di SMKN 5 Tangerang dan sekarang sudah kelas XI, saya mengambil jurusan multimedia. Kegiatan saya di rumah biasanya cuma main laptop trus main game atau sekedar browsing internet dan nonton anime. Tujuan saya membuat blog ini selain karena tugas adalah untuk membagi semua tentang anime, game, dan j-pop. Ya.. mungkin begitu saja singkatnya dari saya dan selamat menikmati blog saya
Sword Art Online Jilid 1 Bab 3
Ding, ding, Sebuah suara seperti bel , atau mungkin sebuah bel peringatan, terdengar dengan keras, membuatku dan Klein melompat karena kaget.
“Ah…”
“Apa ini!?”
Kamu berteriak bersamaan dan melihat satu sama lain, kedua mata kami terbuka lebar.
Klein dan aku diselimuti oleh pilar cahaya berwarna biru terang. Di balik cahaya biru itu, padang rumput di penglihatanku perlahan-lahan menjadi kabur.
Aku pernah mengalami ini beberapa kali selama beta testing. Ini adalah «Teleport» yang dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah item. Aku tidak punya item yang dibutuhkan dan aku juga tidak meneriakkan perintah yang seharusnya diucapkan. Apakah operator nya melakukan teleport paksa? Jika begitu, kenapa mereka tidak memberitahu kami?
Ketika aku sedang berpikir, cahaya di sekelilingku bergetar semakin keras dan kegelapan menyelimutiku.
Saat cahaya birunya memudar, sekelilingku menjadi jelas lagi. Tapi, ini bukan padang rumput yang memantulkan cahaya matahari terbenam lagi.
Sebuah jalan besar yang terbuat dari batu. Jalan abad pertengahan yang dikelilingi oleh lampu jalan dan istana besar yang memancarkan sinar gelap terlihat di kejauhan.
Ini adalah starting point, central plaza dari «Kota Awal».
Aku melihat kearah Klein yang membuka mulutnya lebar-lebar disampingku. Lalu kearah kerumunan orang yang berada di sekeliling kami.
Melihat ke sekumpulan orang yang sangat cantik dan tampan dengan equipment dan warna rambut yang bervariasi, tidak salah lagi mereka adalah player lain sepertiku. Ada sekitar berapa ribu hingga sepuluh ribu orang disini. Sepertinya semua orang yang sedang log on saat ini dipaksa teleport ke central plaza.
Selama beberapa detik, semua orang hanya melihat sekeliling tanpa mengatakan apapun.
Lalu ada beberapa bisikan dan kata-kata yang terdengar disana-sini; perlahan-lahan semakin berisik.
“Apa yang terjadi?"
“Bisakah kita log out sekarang?”
“Bisakah mereka memperbaikinya lebih cepat?”
Komentar-komentar seperti itu bisa terdengar dari waktu ke waktu.
Ketika para player mulai kehilangan kesabaran, teriakan-teriakan seperti “Apa ini bercanda?” dan “Keluar kalian, GM!” dapat terdengar.
Lalu tiba-tiba.
Seseorang berteriak dengan suara yang lebih keras dari suara-suara itu.
“Ah…lihat keatas!”
Klein dan aku hampir secara otomatis mengarahkan mata kami keatas dan melihat. Ada pemandangan aneh yang menyambut kami.
Di permukaan bagian bawah lantai dua, seratus meter diatas udara, terdapat tanda silang berwarna merah.
Ketika aku melihat dengan lebih jelas, aku bisa melihat kalau itu adalah dua kata yang saling bersilangan. Kata-kata yang satunya adalah [Warning] dan yang satu lagi adalah [System Announcement].
Aku terkejut selama sesaat tapi kemudian berpikir 'Oh, operatornya mulai menginformasikan kita sekarang', dan mengendurkan bahuku sedikit. Pembicaraan di plaza menjadi sunyi dan kau bisa merasakan kalau semua orang menunggu kata selanjutnya yang akan keluar.
Tapi, apa yang terjadi selanjutnya tidak seperti apa yang kubayangkan.
Dari tengah pola itu, sebuah cairan yang seperti darah mulai mengalir turun perlahan-lahan. Cairan itu turun dengan kecepatan pelan seperti menggambarkan sebarapa kentalannya cairan itu; Tapi cairan itu tidak jatuh kebawah, malah mulai berubah ke bentuk yang lain.
Apa yang muncul adalah pria setinggi 20 meter yang mengenakan jubah berkerudung yang menutupi tubuhnya.
Tidak, itu tidak terlalu tepat. Dari tempat kami melihat, kami bisa dengan mudah melihat kedalam tudungnya-tidak ada wajah disana. Benar-benar kosong. Kami bisa melihat dengan jelas bagian dalam bajunya dan sulaman hijau didalam tudungnya. Didalam jubahnya pun sama, yang bisa kami lihat hanyalah bayangannya saja.
Aku pernah melihat jubah itu sebelumnya. Itu adalah baju yang selalu digunakan pegawai Argas yang bekerja sebagai GM. Tapi semua GM pria mempunyai wajah seperti seorang penyihir tua dengan janggut panjang, dan Yang wanita mempunyai avatar wanita berkacamata. Mereka mungkin menggunakan jubah itu karena kurangnya waktu untuk menyiapkan avatar yang layak, tapi tempat kosong dibalik tudungnya memberikanku perasaan gelisah yang tidak bisa dijelaskan.
Para player di sekelilingku pasti merasakan hal yang sama.
“Apa itu GM?”
“Kenapa dia tidak punya wajah?”
Banyak bisikan seperti itu yang bisa terdengar.
Lalu tangan kanan dari jubah besar itu bergerak seperti untuk mendiamkan mereka.
Sebuah sarung tangan putih bersih muncul dari lipatan panjang lengan bajunya. Tapi lengan baju itu, seperti bagian lain dari jubahnya, tidak terhubung dengan bagian tubuh manapun.
Lalu tangan kirinya perlahan-lahan terangkat keatas juga. Kemudian dengan dua sarung tangan kosong yang terbentang di depan 10 ribu player, orang tak berwajah itu mulai membuka mulutnya—tidak, terasa seakan-akan dia melakukannya. Kemudian sebuah suara pria yang tenang dan pelan terdengar bergema dari ketinggian.
‘Para Player sekalian, aku menyambut kalian semua kedalam dunia ku'
Aku tidak bisa segera mengerti.
«Duniaku»? Jika orang berjubah merah itu adalah seorang GM, maka dia memang punya kekuatan seperti dewa di dunia ini, yang mengizinkannya mengubah dunia ini sesukanya, tapi kenapa dia mengatakannya sekarang?
Klein dan aku melihat satu sama lain kebingungan. Orang berjubah merah tanpa nama itu menurunkan kedua tangannya dan melanjutkan perkataannya.
‘Namaku adalah Kayaba Akihiko. Sekarang ini, akulah orang satu-satunya yang bisa mengendalikan dunia ini.’
“Apa…!?”
Avatarku menjadi kaku karena shock, dan tenggorokanku, dan mungkin leherku di dunia nyata juga, berhenti bekerja selama beberapa detik.
Kayaba—Akihiko!!
Aku tahu nama itu. Tidak mungkin aku tidak tahu.
Orang ini adalah seorang game designer dan seorang genius di bidang quantum physics, orang yang membuat Argas, yang beberapa tahun lalu hanyalah satu dari banyak perusahaan kecil lainnya, menjadi salah satu perusahaan yang bisa mengatur perekonomian dunia.
Dia merupakan direktur pengembangan SAO dan pada saat yang sama, pendesain Nerve Gear.
Sebagai salah seorang hardcore gamer, aku sangat menghormati Kayaba. Aku membeli seluruh majalah yang menceritakan tentang dia dan telah membaca beberapa wawancaranya hingga aku hampir hapal isinya. Aku hampir bisa membayangkan dia mengenakan baju putihnya yang selalu dia gunakan hanya dengan mendengar suaranya.
Tapi dia selalu berdiri dibalik layar, menolak tampil di depan media; dia tidak pernah menjadi GM sebelumnya-jadi kenapa dia melakukan sesuatu seperti ini?
Aku berusaha berpikir lagi untuk mengerti situasinya. Tapi kata-kata yang keluar dari orang itu terdengar seperti ejekan bagiku yang sedang berusaha untuk mengerti.
‘Kupikir hampir semua orang telah menyadari kalau tombol logout telah menghilang dari main menu. Itu bukanlah bug, itu adalah bagian dari sistem «Sword Art Online».’
“Bagian dari…sistemnya?”
Klein bergumam, suaranya terbata-bata. Pengumumannya berlanjut dengan suara yang pelan seperti untuk menyembunyikan suara aslinya.
‘Hingga kalian mencapai ke lantai teratas dari kastil ini, kalian tidak bisa log out.’
Kastil ini? Awalnya aku tidak mengerti kata tersebut. Tidak ada kastil di «Kota Awal».
Lalu kata-kata selanjutnya yang di katakan Kayaba menghilangkan semua kebingunganku.
‘…selain itu, dilarang menghentikan atau melepas Nerve Gear dari luar. Jika hal-hal seperti itu dilakukan…’
Sunyi.
Kesunyian diantara sepuluh ribu orang ini sangat menekan. Kata-kata selanjutnya keluar secara perlahan-lahan.
‘Pengirim sinyal di Nerve Gear mu akan mengirimkan sebuah gelombang elektromagnetik yang kuat, menghancurkan otakmu dan menghentikan semua fungsi tubuhmu.’
Klein dan aku melihat satu sama lain dalam keadaan shock selama beberapa detik.
Pikiranku seakan-akan menolak untuk mempercayai apa yang baru saja kudengar. Tapi pernyataan singkat yang dikatakan Kayaba menusuk ke pikiranku.
Menghancurkan otak kami.
Dengan kata lain, membunuh kami.
Pengguna manapun yang mematikan Nerve Gear atau membuka kunci pengaman dan melepaskannya akan terbunuh. Itulah apa yang baru saja Kayaba maksudkan.
Orang-orang di keramaian mulai bergumam, tapi tidak ada satupun yang berteriak atau panik. Tidak ada seorangpun, sama halnya denganku, yang bisa mengerti ataupun memprotesnya.
Klein mengangkat tangannya perlahan-lahan dan mencoba untuk memegang head gear yang seharusnya berada di sana di dunia nyata. Ketika dia melakukannya, dia mengeluarkan tawa kecil dan mulai berbicara.
“Haha…Apa yang dia katakan? Pria itu, apa dia gila? Omongannya tidak masuk akal. Nerve Gear… Ini hanya game. Menghancurkan otak kita…Bagaimana dia bisa melakukannya? Benar kan, Kirito?”
Suaranya terbata-bata di bagian akhir. Klein menatapku dengan serius, tapi aku tidak bisa mengangguk setuju.
Pengirim sinyal di dalam helm Nerve Gear mengirimkan gelombang elektronik untuk mengirimkan sinyal virtual ke dalam otak.
Mereka menyebut ini sebagai ultra teknologi terbaru, tapi teori dasar penggunaannya sama dengan barang elektronik yang sudah ada sejak 40 tahun yang lalu di jepang, microwave.
Jika listriknya mencukupi, mungkin saja Nerve Gear nya bisa menggetarkan partikel air yang ada di dalam otak kami dan membakarnya dengan panas yang dihasilkan. Tapi…
“…secara teori, itu mungkin, tapi dia pasti hanya menggertak. Karena jika kita mencabut kabel Nerve Gear, tidak mungkin itu dapat mengirimkan gelombang sekuat itu. Kecuali ada sejenis baterai yang punya kapasitas penyimpanan yang cukup besar…didalam…”
Klein mungkin sudah bisa mengira alasan kenapa aku berhenti berbicara.
“Ada…satu,” katanya, kata-katanya hampir seperti sebuah teriakan dengan ekspresi kosong diwajahnya. “30% dari berat gearnya berasal dari baterainya. Tapi…itu benar-benar gila! Bagaimana jika tiba-tiba terjadi mati listrik atau sejenisnya!?”
Kayaba mulai menjelaskan, seperti dia telah mendengar apa yang Klein teriakkan.
‘Untuk lebih jelasnya, pemindahan sumber tenaga listrik untuk 10 menit, terputus dari server lebih dari dua jam, atau pencobaan untuk membuka kunci, mematikan, atau merusak Nerve Gear. Jika salah satu dari kondisi itu terpenuhi, proses penghancuran otak akan dimulai. Syarat-syarat itu telah diberitahukan kepada pemerintah dan kepada masyarakat lewat seluruh media di dunia luar. Untuk catatan, sudah ada beberapa kasus dimana ada keluarga atau teman yang mengabaikan peringatannya dan mencoba dengan paksa melepaskan Nerve Gear. Hasilnya—’
Kata-katanya berhenti sesaat.
‘—sayangnya 213 player sudah keluar dari dunia ini, dan dunia nyata untuk selamanya.’
Sebuah teriakan yang panjang dan tipis bisa terdengar. Tapi sebagian besar dari player masih belum bisa mempercayai atau menolak untuk mempercayai apa yang baru saja dikatakan dan hanya berdiri saja dengan wajah yang pucat dan mulut yang terbuka atau senyuman miris di wajah mereka.
Pikiranku mencoba menolak mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Kayaba. Tapi tubuhku mengkhianatinya dan lututku mulai bergetar dengan kuat.
Aku tersandung kebelakang beberapa langkah dengan lututku yang lemah dan berhasil mencegah diriku jatuh. Tapi Klein terjatuh kebelakang dengan wajah tanpa ekspresi.
213 player telah meninggalkan dunia ini.
Kalimat itu terus menerus berulang di dalam kepalaku.
Jika yang dikatakan Kayaba benar-lebih dari 200 orang telah meninggal saat ini?
Beberapa dari mereka mungkin saja ada beta tester sepertiku. Aku mungkin telah mengenal beberapa dari nama karakter dan avatar mereka. Orang-orang itu telah terbakar otaknya dan…mati, apa ini yang Kayaba telah katakan?
“…dak percaya… Aku tidak percaya.”
Klein, yang masih duduk di lantai, mulai berbicara dengan suara yang kaku.
“Dia hanya mencoba menakuti kita. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu? Berhenti bercanda dan biarkan kami keluar dari sini. Kami tidak punya waktu untuk mengikuti upacara pembukaan mu yang gila ini. Yeah…ini semua hanyalah sebuah event. Sebuah pertunjukan pembuka, kan?”
Didalam kepalaku, aku meneriakkan hal yang sama.
Tapi seperti untuk menghilangkan harapan kami, suara Kayaba yang seperti seorang pebisnis meneruskan penjelasannya.
‘Para Player, kalian tidak perlu mengkhawatirkan tubuh yang kalian tinggalkan di luar sana. Saat ini, seluruh media TV, radio, dan internet sedang melaporkan situasi ini berulang kali, termasuk kenyataan bahwa sudah ada beberapa korban jiwa. Kemungkinan Nerve Gear kalian terlepas sudah menghilang. Sebentar lagi, menggunakan dua jam yang kuberikan, kalian semua akan di pindahkan ke rumah sakit atau tempat-tempat seperti itu untuk mendapatkan perawatan terbaik. Jadi kalian bisa tenang…dan berkonsentrasi untuk menaklukkan game nya.’
“Apa…?”
Lalu, akhirnya mulutku mulai berteriak dengan keras.
“Apa yang kau katakan!? Menaklukkan game nya!? Kau ingin kami bermain di situasi seperti ini!?”
Aku terus berteriak, menatap kearah jubah merah yang meresap kedalam permukaan dasar lantai atas.
“Ini bukan game lagi!!”
Lalu Kayaba Akihiko mulai mengumumkan perlahan dengan suaranya yang monoton.
‘Tapi aku ingin kalian semua mengerti bahwa «Sword Art Online» bukanlah sebuah game biasa lagi. Ini adalah dunia nyata yang kedua. …mulai sekarang, segala jenis revival didalam game tidak akan bekerja lagi. Disaat HP mu mencapai angka 0, avatar mu akan menghilang selamanya, dan pada saat yang sama—’
Aku bisa menebak apa yang akan dia katakan dengan sangat jelas.
‘Otakmu akan dihancurkan oleh Nerve Gear.’
Tiba-tiba, rasa ingin tertawa menggelembung di dasar perutku. Aku menahannya.
Sebuah garis horizontal panjang bersinar di bagian kiri atas penglihatanku. Ketika aku memfokuskan pandanganku kearahnya, angka 342/342 dapat terlihat.
Hit points. Nyawaku.
Saat itu mencapai nol, Aku akan mati—sinyal gelombang elektromagnetik akan membakar otakku, membunuhku seketika. Inilah yang telah Kayaba katakan.
Tidak salah lagi ini adalah sebuah game, sebuah game dengan nyawamu sebagai taruhannya. Dengan kata lain, sebuah game kematian.
Aku pasti telah mati setidaknya 100 kali dalam dua bulan beta testing. Aku direspawned dengan sedikit senyum malu di wajahku di bagian utara dari main plaza, di «Black Iron Palace», dan berlari ke arah tempat perburuan lagi.
Itulah RPG, sebuah game dimana kau berkali-kali mati dan belajar dan menaikkan level. Tapi sekarang kau tidak bisa? Sekali kau mati, kau akan kehilangan nyawamu? Dan sebagai tambahan—kau bahkan tidak bisa berhenti bermain?
“…tidak mungkin,” Aku berkata dengan pelan.
Siapa yang mau pergi ke tempat perburuan dengan kondisi seperti itu? Tentu saja semua orang hanya akan menetap di dalam kota di tempat yang aman.
Lalu seperti membaca pikiran ku, dan mungkin pikiran semua player lain, pengumuman berikutnya diberikan.
‘Para player, hanya ada satu cara untuk keluar dari game ini, seperti yang kubilang sebelumnya, kalian harus memcapai lantai teratas dari Aincrad, lantai keseratus dan mengalahkan boss terakhir yang ada disana. Semua player yang masih hidup pada saat itu akan secara otomatis keluar dari game ini. Aku sudah mengatakan pada kalian semua yang perlu kukatakan.’
Sepuluh ribu orang player berdiri terdiam.
Itulah saat dimana aku menyadari apa yang dimaksud Kayaba ketika dia mengatakan «capailah lantai teratas dari kastil ini». Kastil ini—berarti tempat luas yang memenjarakan seluruh player di lantai pertama dan 99 lantai lainnya yang ada diatas, bertumpuk hingga ke langit dan melayang diatasnya. Dia membicarakan Aincrad itu sendiri.
“Menaklukan…seluruh 100 lantai!?” Klein tiba-tiba berteriak. Dia cepat-cepat berdiri dan mengangkat tinjunya ke atas langit.
“Bagaimana mungkin kami melakukannya? Kudengar menaiki satu lantai saja sangat sulit selama beta testing!”
Itu benar. Selama dua bulan beta testing, seribu orang player hanya bisa mencapai lantai keenam. Bahkan jika ada sepuluh ribu orang yang log in, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melewati 100 lantai?
Kebanyakan player yang dipaksa berada disini bertanya-tanya akan pertanyaan-yang tidak ada jawabannya ini.
Kesunyian menegangkan ini perlahan-lahan menunjukan gumaman pelan. Tapi tidak ada tanda-tanda dari ketakutan dan rasa putus asa.
Sebagian orang disini masih bingung apakah ini benar-benar «bahaya nyata» atau sebuah «event pembukaan yang sangat dibuat-buat». Semua yang dikatakan Kayaba terlalu menakutkan hingga terasa tidak nyata.
Aku mengadahkan kepalaku lagi untuk melihat ke arahnya dan moncoba untuk memaksakan pikiranku menerima situasi ini.
Aku tidak bisa log out lagi, selamanya. Aku juga tidak bisa kembali ke kamarku dan kehidupanku. Satu-satunya cara untuk bisa kembali adalah jika seseorang mengalahkan boss di lantai tertinggi dari kastil terbang ini. Jika HP mencapai angka nol meski sekali saja sebelum itu—aku akan mati. Aku akan benar-benar mati dan akan menghilang selamanya.
Tapi...
Betapapun aku mencoba menerima kenyataan, ini mustahil. Hanya sekitar lima atau enam jam lalu aku masih makan makanan buatan ibuku, berbicara sedikit dengan saudara perempuanku, dan berjalan didalam rumahku.
Sekarang aku tidak bisa kembali ke tempat itu lagi? Dan saat ini, ini adalah dunia nyata yang sebenarnya?
Lalu, ketika jubah merah yang sejak tadi berada di depan kami mengibaskan sarung tangan kanannya dan mulai berbicara dengan suara yang tidak memiliki emosi sama sekali.
‘Kalau begitu biar kutunjukkan bukti kalau ini adalah kenyataan. Di dalam inventorimu akan ada hadiah dariku. Ambillah.’
Segera setelah mendengarnya, aku menekan jari telunjuk ku dan jempol ku bersamaan dan menarik nya kebawah. Semua player melakukan hal yang sama dan plaza dipenuhi oleh suara gemerincing bel.
Aku menekan tombol item di menu yang baru saja muncul dan ada item disana, di bagian teratas dari daftar barang-barangku.
Nama itemnya adalah—«Hand Mirror»
Kenapa dia memberi kami benda ini? Sambil berpikir aku menyentuh nama bendanya dan menekan tombol "buat benda menjadi object". Segera setelahnya terdengar sebuah sound effect dan sebuah kaca persegi berukuran kecil muncul.
Aku memegangnya dengan ragu-ragu tapi tidak ada apapun yang terjadi. Apa yang muncul di dalam cermin adalah wajah dari avatar yang kubuat dengan susah payah.
Aku memiringkan kepalaku dan melihat ke arah Klein. Dia juga melihat ke cermin dengan wajah yang tanpa ekspresi.
—Lalu.
Tiba-tiba Klein dan avatar-avatar di sekeliling kami diselimuti oleh cahaya putih. Segera setelah melihatnya, aku juga dikelilingi cahaya yang sama, dan apa yang bisa kulihat hanyalah warna putih.
Sekitar 2, 3 detik kemudian, sekelilingku menjadi jelas lagi seperti mereka baru saja…
Tidak.
Wajah di depanku bukanlah wajah yang kukenal.
Armor yang terbuat dari besi yang dijahit, bandana, dan rambut merah berdurinya sama. Tapi wajahnya berubah ke bentuk yang lain. Matanya yang tajam berubah menjadi cekung dan berwarna lebih terang. Hidungnya yang mancung menjadi sedikit pesek, dan muncul janggut di pipi dan dagunya. Jika avatarnya adalah seorang samurai yang masih muda dan ceria, maka yang ini adalah seorang warrior yang telah kalah—atau mungkin seorang perampok.
Aku lupa akan situasinya selama beberapa saat dan berkata.
“Siapa…kau?”
Kata yang sama terdengar dari mulut orang yang berada didepanku.
“Hey…siapa kau?”
Lalu tiba-tiba menyadari apa guna hadiah Kayaba, «Hand Mirror» yang sedang kupegang.
Aku buru-buru mengangkat kacanya, dan melihat muka yang terpantul.
Rambut hitam yang rapi diatas kepala, sepasang mata yang kelihatan lemah dapat terlihat dibalik rambut yang agak panjang, dan wajah yang orang-orang bisa salah lihat dan menganggapku sebagai wanita ketika aku pergi keluar dengan menggunakan pakaian bebas bersama saudara perempuan ku.
Wajah tenang dari warrior «Kirito» yang baru beberapa detik yang lalu masih ada telah menghilang. Wajah yang terpantul di cermin—
Adalah wajah asliku yang susah-payah ku sembunyikan.
“Ah…wajahku…”
Klein, yang juga sedang memandangi cerminnya terjatuh kebelakang. Kami berdua melihat satu sama lain dan berteriak disaat yang sama.
“Kau Klein!?” “Kau Kirito!?"
Suara kami juga berubah, mungkin pengubah suaranya berhenti bekerja. Tapi kami tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu.
Cerminnya terjatuh dari tangan kami dan mengenai lantai, dan hancur dengan suara pecahan yang agak keras.
Ketika aku melihat sekeliling lagi, kerumunannya sudah tidak lagi dipenuhi oleh orang yang terlihat seperti karakter dari game-game fantasi. Sekumpulan anak muda normal sudah menggantikan tempat mereka. Ini seperti melihat sekumpulan orang di dunia nyata di sebuah perkumpulan game yang menggunakan kostum seperti armor. Bahkan perbedaan jumlah laki-laki dan perempuannya berubah drastis.
Bagaimana ini mungkin terjadi? Klein dan aku, dan mungkin semua player di sekitar kami telah berubah dari avatar yang mereka buat dari awal, menjadi diri asli kami. Tentu saja, teksturnya sendiri masih terlihat seperti model poligon dan masih sedikit terasa aneh, tapi yang paling menakutkan adalah keakuratannya. Seakan-akan gearnya punya sebuah full body scanner yang terpasang.
—Scan.
“…ah, benar!” Aku melihat kearah Klein dan memaksakan suaraku untuk keluar.
“Ada pengirim sinyal di Nerve Gear yang menutupi seluruh kepala kita. Jadi itu tidak hanya bisa melihat cara berpikir otak kita, tapi wajah kita juga…”
“Ta-Tapi, bagaimana bisa mesin itu tahu bagaimana bentuk tubuh kita terlihat… Seperti seberapa tinggi kita?”
Klein berkata sambil diam-diam melihat ke sekitar kami.
Rata-rata tinggi dari player, yang sedang melihat diri mereka sendiri dan orang lain dengan berbagai ekspresi, sangat terlihat berkurang setelah «perubahan» tadi. Aku—dan mungkin Klein juga-telah mensetting tinggi kami agar sesuai dengan tinggi asliku di dunia nyata untuk menghindari tinggi yang berlebihan yang bisa menghambat gerakanku, tapi hampir semua player sepertinya membuat diri mereka lebih tinggi sekitar sepuluh hingga dua puluh cm. Bukan hanya itu, bentuk dan lebar tubuh para player juga menjadi lebih besar sekarang. Tidak mungkin Nerve Gear bisa mengetahui semua ini.
Tapi Klein menjawab pertanyaan ini.
“Ah…tunggu. Aku baru membeli Nerve Gear kemarin jadi aku masih ingat, ada bagian dari set-up…apa yah disebutnya, pengukuran? Yah apapun itu, saat itu kau disuruh menyentuhkan nya ke bagian tubuhmu di sana-sini, mungkin itu…?”
“Ah, benar……pasti itu…”
Pengukuran adalah saat dimana Nerve Gear mengukur «seberapa jauh tanganmu bisa menggapai tubuhmu». Ini dilakukan untuk menciptakan perasaan yang lebih nyata didalam game. Jadi bisa dibilang kalau Nerve Gear punya data mengenai bentuk asli tubuh kita yang tersimpan di dalamnya.
Itu mungkin untuk membuat semua avatar para player menjadi replika yang sama persis dengan diri mereka. Tujuan dari semua ini juga menjadi jelas sekarang.
“…kenyataan,” aku bergumam. “Dia bilang ini adalah kenyataan . Avatar yang terbuat dari poligon ini…dan HP kita adalah tubuh dan kehidupan asli kita. Untuk membuat kita percaya kalau dia menciptakan tiruan sempurna dari kita…”
“Tapi…tapi kau tahu Kirito.”
Klein menggaruk kepalanya dengan kasar dan matanya memantulkan sinar saat dia berteriak.
“Kenapa? Kenapa dia melakukan hal seperti ini…?”
Aku tidak menjawabnya dan menunjuk keatas.
“Tunggu saja. Mungkin dia akan menjawab pertanyaan itu sebentar lagi.”
Kayaba memenuhi harapanku. Beberapa detik kemudian, sebuah suara yang terdengar serius, terdengar dari langit yang berwarna merah darah.
‘Kalian pasti heran dan berpikir ‘kenapa’. Kenapa aku-pencipta dari Nerve Gear dan SAO, Kayaba Akihiko-melakukan sesuatu yang seperti ini? Apakah ini sejenis serangan teroris? Apakah dia melakukan ini untuk meminta uang tebusan untuk membebaskan kami?’
Itulah saat ketika suara Kayaba, yang hingga sekarang tanpa emosi, mulai menunjukkan sedikit emosi di dalamnya. Tiba-tiba kata «empati» terpikir oleh ku, meski tidak mungkin itu terjadi.
‘Itu semua bukanlah alasanku melakukan ini. Bukan hanya itu, searang bagiku, sudah tidak ada alasan untuk melakukan ini. Alasannya karena…situasi ini sendiri lah yang merupakan alasanku melakukan ini. Untuk membuat dan mengamati dunia ini adalah satu-satunya alasanku membuat Nerve Gear dan SAO. Dan sekarang, semuanya telah menjadi nyata.’
Lalu setelah istirahat singkat, suara Kayaba sekarang menjadi tanpa emosi lagi dan berkata.
‘…sekarang aku telah menyelesaikan official tutorial dari «Sword Art Online». Para Player—semoga kalian beruntung.’
Kata-kata terakhirnya diikuti oleh suara bergema kecil.
Jubah besar itu mulai melayang lebih tinggi tanpa bersuara, dan mulai menyelam, dari kepalanya, kedalam system message yang menutupi langit seakan-akan meleleh.
Bahunya, kemudian dadanya, lalu kedua tangan dan kakinya bergabung kedalam permukaan merah, dan terakhir sebuah noda merah yang tersisa menghilang. Segera sesudahnya system message yang telah menutupi langit menghilang dengan tiba-tiba seperti saat itu muncul.
Suara dari angin yang bertiup di atas plaza dan BGM dari orkestra NPC terdengar perlahan di telinga kami.
Game telah kembali ke keadaan normal, kecuali beberapa peraturan yang baru saja diubah.
Lalu—akhirnya.
Kerumunan dari 10 ribu player tadi mulai memberikan reaksi yang wajar.
Dengan kata lain, ribuan suara mulai terdengar dengan keras di seluruh plaza.
“Itu bercanda kan…? Apa-apaan itu? Itu lelucon kan!?”
“Berhenti bercanda! Biarkan aku keluar! Biarkan aku keluar dari sini!”
“Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini! Aku harus segera bertemu dengan seseorang sebentar lagi!”
“Aku tidak suka ini! Aku mau pulang! Aku mau pulang!!!!!!”
Pekikan. Tuntutan. Teriakan. Kutukan. Permohonan. Dan jeritan.
Orang-orang yang telah berubah dari game player menjadi tahanan dalam hitungan menit berlutut dan memegangi kepala mereka, melambaikan tangan mereka, memegang satu sama lain atau mulai menyumpahi dengan suara yang keras.
Di tengah-tengah semua suara ini, anehnya pikiranku menjadi jernih lagi.
Ini, adalah kenyataan.
Apa yang dinyatakan Kayaba Akihiko semuanya benar. Kalau begitu, ini sudah pasti terjadi. Itu akan aneh jika tidak. Kejeniusan adalah satu sisi dari Kayaba yang membuatnya terlihat menarik.
Sekarang aku tidak bisa kembali ke dunia nyata selama beberapa waktu—mungkin beberapa bulan atau bahkan lebih. Saat ini aku tidak bisa melihat maupun berbicara dengan ibu dan saudara perempuanku. Mungkin saja aku tidak akan punya kesempatan itu lagi. Jika aku mati disini—
Aku akan mati di dunia nyata.
Nerve Gear, yang pernah menjadi sebuah mesin game, sekarang menjadi kunci penjara ini dan alat eksekusi yang akan membakar otakku.
Aku bernapas perlahan menarik dan menghela, dan membuka mulutku.
“Klein, kesini sebentar.”
Aku memegang tangannya, yang terlihat lebih tua dariku di dunia nyata, dan keluar dari kerumunan yang berisik itu.
Kami bisa keluar dari sana dengan lumayan cepat, mungkin karena kami berada di dekat pojokan. kami memasuki salah satu jalan yang menuju keluar plaza dan aku bersembunyi di bayangan dibalik kereta kuda yang tidak bergerak.
“…Klein,” Aku memanggil namanya lagi.
Dia masih terlihat tidak percaya. Aku melanjutkan pembicaraan, berusaha keras agar kata-kataku terdengar serius.
“Dengarkan aku. Aku akan keluar dari kota ini dan menuju ke desa selanjutnya. Ikutlah bersamaku.”
Klein membuka matanya lebar-lebar dibawah bandana nya. Aku terus berbicara dengan suara yang pelan dan memaksa mulutku untuk mengeluarkan kata-kata.
“Jika apa yang dikatakannya benar, untuk bertahan hidup di dunia ini kita harus memperkuat diri kita. Kau tahu kalau kan kalau MMORPG adalah pertarungan untuk memperebutkan sumber daya diantara player. Hanya orang-orang yang bisa mendapat uang dan experience yang paling banyak lah yang bisa menjadi kuat. …orang-orang yang telah menyadari hal ini akan memburu semua monster disekitar «Kota Awal». Kau harus menunggu sangat lama hingga monsternya muncul lagi. Pergi ke desa sebelah sekarang akan lebih baik. Aku tahu jalannya dan semua daerah berbahayanya, jadi aku bisa pergi kesana, meski aku masih level satu.”
Mengingat yang sedang berbicara adalah aku, tumben sekali aku mengatakan kata sebanyak itu, tapi meski begitu dia tetap diam.
Lalu beberapa detik kemudian wajahnya berkerut.
“Tapi…tapi kau tahu. Seperti yang kubilang sebelumnya kalau aku mengantri begitu lama untuk membeli game ini bersama dengan teman-temanku. Mereka pasti sudah log in dan seharusnya mereka masih berada di plaza sekarang. Aku tidak bisa…pergi tanpa mereka.
“…”
Aku menghela napasku dan menggigit bibirku.
Aku bisa mengerti semuanya dengan jelas tentang apa yang ingin dikatakan oleh Klein melalui pandangan gugupnya.
Dia—orang yang ceria dan mudah akrab dengan orang lain, dan mungkin dia sangat memperhatikan teman-temannya. Dia pasti berharap kalau aku bisa membawa semua teman-temannya bersama kami.
Tapi aku tidak bisa mengangguk.
Jika hanya dengan Klein, aku bisa mencapai ke desa berikutnya sambil menjaga kami dari monster-monster yang agresif. Tapi jika ada dua orang lagi—tidak, jika ada satu orang lagi yang ikut—mungkin akan berbahaya.
Jika seseorang mati dalam perjalanan, mereka akan mati seperti yang dikatakan oleh Kayaba.
Tanggung jawabnya pasti akan tertuju padaku yang menyarankan untuk keluar dari «Kota Awal» yang aman dan gagal untuk menjaga teman-temanku.
Aku tidak bisa menanggung beban yang seberat itu. Itu mustahil.
Klein terlihat menyadari kekhawatiranku. Sebuah senyuman muncul di wajahnya yang sedikit berjanggut dan dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak…Aku tidak bisa terus bergantung padamu. Aku adalah seorang guild master di game yang biasa kumainkan. Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja dengan teknik yang kau ajarkan padaku hingga sekarang. Dan…masih ada kemungkinan kalau ini hanyalah sebuah lelucon dan kita akan bisa log off. Jadi jangan khawatirkan kami dan pergilah ke desa itu.”
“…”
Dengan mulutku yang tertutup, aku dibingungkan oleh ketidak-tegasan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.
Lalu aku mengatakan kata yang akan menggerogotiku selama dua tahun kedepan.
“…OK.”
Aku mengangguk , berjalan mundur, dan mengatakannya dengan tenggorokanku yang kering.
“Baiklah, ayo berpisah disini. Jika ada masalah kirimlah pesan padaku. …well, sampai jumpa, Klein.”
Klein memanggilku ketika aku mengalihkan pandanganku dan akan pergi.
“Kirito!”
“…”
Aku menengok tapi dia tidak mengatakan apapun, pipinya hanya bergerak sedikit.
Aku melambaikan tanganku sekali dan berbalik kearah barat laut—kearah desa yang akan kusinggahi.
Ketika aku baru berjalan lima langkah, sebuah suara memanggilku dari belakang lagi.
“Hey, Kirito! Kau terlihat tampan di dunia nyata! Aku agak suka dengan gayamu!”
Aku tersenyum pahit dan menyahut tanpa menengok.
“Wajahmu juga sepuluh kali lebih cocok untukmu!”
Lalu aku meninggalkan teman pertamaku di dunia ini dan berlari lurus tanpa ragu.
Setelah aku berlari melewati jalan yang berangin selama beberapa menit, Aku melihat kebelakang lagi. Tentu saja, tidak ada siapa-siapa disana.
Aku mengabaikan perasaan aneh di dadaku dan berlari.
Aku berlari menuju ke gerbang barat laut dari «Kota Awal» dan kemudian melewati padang yang luas dan hutan yang lebat, kemudian menuju sebuah desa yang terletak dibalik semua itu—menuju game survival tanpa akhir ini.
Fakta tentang One Piece
Ok, skrg saya mw posting 16 fakta unik tentang One Piece..
bgi penggemar One Piece, harap dibaca nih..
16 Fakta Rahasia Unik Dibalik Anime One Piece
One Piece adalah sebuah anime dan manga tentang sekelompok bajak laut yang dipimpin olehMonkey D. Luffy yang pergi mencari harta karun legendaris bernama One Piece. Pada Februari 2005,One Piece
mencetak rekor di Jepang sebagai penerbitan manga yang tercepat mencapai 100.000.000 eksemplar.
Pada awalnya pengarang One Piece Eiichiro Oda merencanakan One Piece akan berjalan sekitar 5 tahun, dan dia
bgi penggemar One Piece, harap dibaca nih..
16 Fakta Rahasia Unik Dibalik Anime One Piece
One Piece adalah sebuah anime dan manga tentang sekelompok bajak laut yang dipimpin olehMonkey D. Luffy yang pergi mencari harta karun legendaris bernama One Piece. Pada Februari 2005,One Piece
mencetak rekor di Jepang sebagai penerbitan manga yang tercepat mencapai 100.000.000 eksemplar.
Pada awalnya pengarang One Piece Eiichiro Oda merencanakan One Piece akan berjalan sekitar 5 tahun, dan dia
telah menetapkan endingnya. Tetapi dia terlalu “menikmati” jalan ceritanya dan sekarang dia tidak tahu kapan One Piece akan berakhir.
Inilah 16 fakta unik dan Rahasia yang terungkap di dalam anime One Piece, anda percaya atau tidak? inilah fakta-faktanya:
Inilah 16 fakta unik dan Rahasia yang terungkap di dalam anime One Piece, anda percaya atau tidak? inilah fakta-faktanya:
- Nama Karakter dari sebelas Supernova adalah Nama Bajak Laut di dunia nyata.
- Kejadian alam Pelangi Bulat adalah Kejadian Alam yg pernah terjadi di Dunia Nyata.
- Celana yang dipakai God Enel mirip Motif batik Indonesia.
- Imej God Enel terinspirasi dari rapper favorit Eiichiro Oda, Eminem.
- Karakter Aokiji diambil dari Karakter Yusaku Matsuda.
- Seperti Aokiji, Kizaru juga diadaptasi dari salah satu artis Jepang yg terkenal yaitu Kunie Tanaka. Nama asli Kizaru, Borsalino merupakan nama karakter yang pernah diperankan sendiri oleh Kunie Tanaka dalam sebuah film.
- Shichibukai di desain menurut salah satu film kesukaan pengarang One Piece Eiichiro Oda. yaitu The Seven Samurai.
- Thriller Bark juga di desain menurut salah satu film kesukaan Eiichiro Oda, yaitu Tim Burton’s Nightmare Before Christmas.
- Samurai Ryuma semasa hidupnya pernah diceritain di salah satu chapter Wanted! (cerita pendek buatan Eiichiro Oda yang terdiri dari 5 chapter dibuat sebelum dia memulai membuat One Piece). karena tepat seperti apa yang dibilang Hogback. kalo dulu Ryuma pernah membunuh naga. Di dalam cerita Wanted! dia memang membunuh naga.
- Nama Edward Newgate dan Marshall D. Teach terinspirasi dari nama bajak laut asli yg bernama Edward Teach.
- Jurus2 dari Kizaru. Yata No Kagami dan Amakumo No Tsurugi merupakan nama2 harta legendaris mitos Jepang.
- Kebanyakkan jurus One Piece diambil dari nama-nama Dewa (Khusus jurus God Enel : El Thor, Kiten, Jambure)
- Perang Suku Shandia dan Pulau Langit Skypea adalah memank perang nyata di suatu daerah, karena perebutan tanah dan harta.
- Tentang penjelasan Robin megenai Pahlawan yg ada di Alabasta. Dia membaca kalimat pahlawan Alabasta yaitu “Hero of Altea Alabasta, Mahmu….” (tidak dilanjutkan) mungkin ingin menjelaskan tentang sosok Nabi Muhammad SAW, yang memang beliau adalah Nabi dan Pahlawan di Negeri Timur Tengah (termasuk Arab, Arab = Alabasta)
- Gorousei = 5 Dewan Keamanan PBB
- World Government = LBB (Liga Bangsa-Bangsa, organisasi awal sebelum PBB), WG dibentuk dari 20 wilayah kerajaan pada awalnya, sama dengan LBB yang awalnya baru diikuti oleh 20 Negara.
Download lagu LiSa - Crossing Field (full ver.)
yahoo~ apa kabar semuanya ? bersama saya Fathur , di postingan download ost. anime yang pertama ini saya akan memberikan link download lagu opening dari Sword Art Online yang judulnya Crossing Field dinyanyikan dengan merdu oleh LiSa baiklah berikut adalah link downloadnya :
semoga bermanfaat dan terima kasih~
Sword Art Online Jilid 1 Bab 2
Bab 2
“Ahh… ha… uwahh!”
Sebuah pedang mengayun bersamaan dengan teriakan aneh itu, tanpa mengenai apapun kecuali udara.
Tepat sesudahnya, celeng biru itu bergerak dengan kecepatan yang cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan badannya yang besar, menerjang kearah pemburunya. Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya terlempar keudara dan berguling menuruni bukit setelah tertabrak oleh hidung pesek boar itu.
"Hahaha, bukan seperti itu. Gerakan awal itu sangat penting, Klein."
"Argh…babi sialan."
Pemburu yang sedang menggerutu itu, anggota party ku yang bernama Klein, berdiri dan melirik kearahku sambil menjawab dengan lesu.
"Tapi Kirito, meskipun kau bilang begitu, aku tidak bisa mengenai musuh yang bergerak."
Aku bertemu dengan orang ini, orang yang berambut merah dan mengenakan bandanna dan sebuah simple leather armor di tubuhnya yang kurus itu, beberapa jam yang lalu. Jika dia memberitahukan nama aslinya, mungkin akan sulit untuk tidak menggunakan honorific, tapi nama Klein miliknya dan nama Kirito milikku ini adalah nama yang dibuat untuk character kami. Menambahkan "-san" atau "-kun" akan membuat nama kami menjadi lebih comical dibandingkan apapun.
Kaki orang yang sedang dibicarakan itu mulai bergetar.
Sepertinya dia sedikit pusing.
Aku mengambil sebuah kerikil dibawah kakiku dan mengangkatnya sedikit lebih tinggi dari bahuku. sesaat setelah systemnya mendeteksi gerakan awal dari sebuah sword skill, kerikilnya mulai memancarkan sedikit sinar berwarna hijau.
Setelah itu tangan kiriku bergerak dengan sendirinya dan batunya terlempar, meninggalkan segaris cahaya dan mengenai celeng itu diantara alisnya. Ggiik! celeng itu memekik kesal dan berbalik kearahku.
"Tentu saja mereka bergerak. Mereka bukan boneka latihan. tapi jika kau mulai dengan gerakan yang tepat, systerm nya akan meneruskan sword skill mu dan mengenai targetnya untukmu."
"Gerakan, gerakan,"
Sambil berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra, Klein mengangkat cutlassnya yang ada di tangan kanannya.
Meskipun celeng biru, atau nama aslinya <Frenzy Boar> adalah monster level 1, Klein telah menghabiskan hampir setengah dari HPnya karena terkena counterattack akibat serangannya yang asal-asalan tadi. Yah, meskipun dia mati, dia akan di respawn di <Starting City> didekat sini. Tapi, berjalan menuju daerah perburuan lagi itu agak menjengkelkan.
Sepertinya tinggal satu serangan lagi sebelum pertarungannya berakhir.
Aku sedikit memiringkan kepalaku saat aku menangkis terjangan boar itu dengan pedang yang ada di tangan kananku.
"Hmm, bagaimana cara menjelaskannya ya, ini tidak seperti satu, dua, tiga lalu terjang, tapi lebih seperti mengumpulkan sedikit tenaga dan sesaat setelah kau merasakan kalau skillnya dimulai, lalu BAM dan kau merasa kalau itu mengenai monsternya."
"Bam, eh?"
Muka Klein yang agak tampan itu menyeringai hingga tidak enak dipandang mata dan dia mengangkat pedangnya setinggi perutnya.
Menarik dan menghela napas, setelah menarik napas yang dalam, dia menurunkan kuda-kudanya dan mengangkat pedangnya. Kali ini sistemnya mendeteksi kalau posenya benar dan pedangnya mulai memancarkan sinar berwarna oranye.
"Ha!"
Dengan teriakan kecil itu, dia melompat dengan gerakan yang sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Swish-! bersamaan dengan suara itu, pedangnya meninggalkan jejak merah menyala di udara. <Reaver>, teknik dasar one handed curved sword, menancap di leher bagian kanan celeng yang sedang menerjang dan melenyapkan seluruh HPnya yang seperti Klein yang sekitar setengah penuh.
Guekk! boar itu menjerit dan tubuh besarnya mulai terpecah seperti kaca, dan angka-angka berwarna ungu muncul, menunjukan berapa banyak experience point yang kudapat.
“Yeeeeaaaahhh!”
Klein berpose kemenangan dengan senyuman besar diwajahnya dan mengangkat tangan kirinya. Aku menepuknya dan tersenyum padanya.
"Selamat atas kemenangan pertamamu. Tapi celeng itu hanya selemah slime dari game lain."
"Eh, benarkah? Kupikir celeng itu adalah semi-boss atau sejenisnya."
"Mustahil itu terjadi."
Senyumanku menjadi agak miris ketika aku menyarungkan pedangku di punggungku.
Meskupun aku menggodanya, aku mengerti perasaannya sekarang. karena aku punya pengalaman 2 bulan lebih daripada dia. hanya sekarang dia bisa merasakan kegembiraan menghancurkan musuhnya dengan tangannya sendiri.
Klein mulai menggunakan sword skill yang sama berulang-ulang sambil berteriak-teriak. mungkin itu adalah salah satu caranya untuk berlatih. Aku meninggalkannya sendiri dan melihat sekeliling.
Padang rumput yang terbentang sangat luas ini bersinar kemerahan saat matahari mulai terbenam. Di utara terlihat bayang-bayang hutan, danau yang berkilauan, dan aku bisa melihattembok yang mengelilingi kota hingga ke timur. Dibagian barat ada langit yang tak terbatas dengan awan berwarna keemasan yang melayang diatasnya.
Kami ada di padang rumput yang terbentang di sebelah timur dari <Starting City> yang berada di ujung utara dari lantai pertama kastil terbang raksasa <Aincrad>. Seharusnya ada banyak sekali player lain yang sedang bertarung dengan monster disekitar sini, tapi karena terlalu luas, tidak ada satupun dari mereka yang terlihat.
Terlihat puas, Klein menyarungkan pedangnya dan berjalan kemari sambil melihat sekeliling juga.
"Omong-omong, berapa kalipun aku melihat sekeliling seperti ini aku masih belum bisa percaya kalau kita ini <berada didalam game>."
"Yah, meski kau bilang 'didalam', bukan berarti kalau juwa kita tersedot kedalamnya atau sejenisnya. Yang melihat dan mendengar bukanlah mata dan telinga, melainkan otak kita dengan mengirimkan sinyal dari <Nerve Gear>.
Aku berkata begitu sambil mengangkat bahuku. Klein mengerutkan bibirnya seperti anak kecil.
"Kau mungkin sudah terbiasa sekarang, tapi bagiku ini adalah pertama kalinya aku melakukan <Full Dive>. Bukankah ini luar biasa? Sungguh! Aku bersyukur dilahirkan di saat ini!"
"Kau berlebihan."
Tapi meskipun tertawa, aku setuju dengannya.
<Nerve Gear>
Itulah nama hardware yang menjalankan VRMMORPG—<Sword Art Online>.
Bentuk dasar mesin ini sangat berbeda dibandingkan dengan yang lama.
Tidak seperti mesin hardware tipe lama yang seperti 'monitor layar datar' atau 'stick game', Nerve Gear mempunyai bentuk seperti helm yang menutupi seluruh kepala dan wajah.
Didalamnya terdapat banyak pemancar sinyal, dan dengan menggunakan pemancar sinyal itu, Gear nya langsung mengakses kedalam otak si pemakai. Si pemakai tidak menggunakan mata dan telinganya untuk melihat dan mendengar, melainkan menangkap sinyal yang dikirimkan langsung ke otak mereka. Ditambah lagi, mesinnya tidak hanya bisa mengakses indra pendengaran dan penglihatan, tapi juga bisa mengakses indra peraba, perasa, dan penciuman. singkatnya, kelima indra.
Setelah memakai Nerve Gear, mengunci strapnya di dagumu dan mengatakan perintah <Link Start>, semua suara menghilang dan kau diselimuti oleh kegelapan. Segera setelah melewati lingkaran berwana pelangi ditengah, kau sudah berada di dunia yang terbuat sepenuhnya dari data.
Jadi,
Setengah tahun lalu, mesin yang mulai dijual pada bulan april 2022 ini berhasil membuat <Virtual Reality>. Perusahaan elektronik yang membuat Nerve Gear menyebut keadaan memasuki dunia digital dengan nama:
<Full DIve>.
Dunia yang sepenuhnya terpisah dari kenyataan, cocok dengan kata 'full'
Alasannya adalah karena Nerve Gear tidak hanya mengirimkan sinyal palsu pada kelima indra, tetapi juga memblokir dan mengembalikan sinyal yang dikirimkan oleh otak ke tubuh.
Ini bisa dibilang syarat paling dasar untuk bergerak dengan bebas didalam Virtual Reality. Jika tubuhnya menerima sinyal dari otak ketika si pengguna dalam keadaan Full Dive, pada saat si pengguna memutuskan untuk <Berlari>, tubuh asli mereka akan menabrak tembok.
Karena Nerve Gear mampu mengembalikan perintah yang dikirimkan oleh otak melalui tulang belakang, aku dan Klein bisa bebas menggerakan avatar kami dan mengayunkan pedang kami sesukanya.
Kami benar-benar berada didalam game.
Pengalaman ini benar-benar memikatku dan banyak gamer lainnya hingga membuat kami tidak ingin menyentuh lagi game tipe lama.
Klein melihat kearah angin yang berhembus melalui padang rumput dan tembok kastil dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jadi Nerve Gear adalah game pertama yang kau mainkan dengan Nerve Gear?"
Klein yang terlihat seperti seorang prajurit tampan yang berasal dari jaman perang menengok kearahku dan mengangguk.
"Yeah."
Jika dia menggunakan ekspresi yang serius di wajahnya, dia akan terlihat seperti aktor yang sedang memerankan drama zaman dulu. Tentu saja ini sangat berbeda dari tubuh aslinya di dunia nyata. Ini hanyalah avatar yang dibuat berdasarkan kumpulan data.
Tentu saja, aku juga terlihat seperti seorang protagonis yang sangat tampan dari sebuah animasi fantasi.
Klein meneruskan pembicaraan dengan suaranya yang terdengar pelan tapi bersemangat, tentu saja ini juga berbeda dengan yang di dunia nyata.
“Yah, tepatnya aku membeli hardwarenya segera setelah aku mendapatkan SAO. Hanya ada sepuluh ribu kaset yang dikeluarkan sekarang. Jadi kupikir aku memang sangat beruntung. …tapi, dipikir-pikir kau sepuluh kali lebih beruntung daripada aku karena kau bisa mendapatkan beta testing nya. Mereka hanya mengeluarkan seribu kaset!”
“Ah, yeah, benar juga.”
Klein terus melihat kearahku. Tanpa sadar aku menggaruk kepalaku.
Aku masih ingat kesenangan dan rasa antusias saat pembuatan <Sword Art Online> diumumkan sudah selesai lewat media seperti baru kemarin.
Nerve Gear telah membuat dunia gaming menjadi lebih maju dengan Full Dive nya. Tapi, karena mesinnya masih baru selesai, hanya game-game yang tidak terkenal saja yang ada untuk dimainkan. Contohnya puzzle, dan game-game yang berhubungan dengan pelajaran atau lingkungan, itu membuat kecewa para penggemar game seperti ku.
Nerve Gear benar-benar bisa menciptakan sebuah virtual reality.
Tapi kau hanya bisa berjalan 100 meter sebelum kau mencapai batas dinding di dunia itu; itu benar-benar mengecewakan. Para hardcore gamers sepertiku, yang benar-benar menghargai pengalaman berada didalam game, tidak mungkin kalau kami tidak menantikan suatu game dengan genre tertentu.
Kami mulai menunggu untuk sebuah game network yang bisa memuat jutaan orang yang log in dan membuat, bertarung bersama dan hidup sebagai karakter mereka sendiri, atau dengan kata lain—sebuah MMORPG.
Ketika rasa antisipasi dan kesabaran kami mencapai puncaknya, VRMMORPG pertama diumumkan tepat waktunya, <Sword Art Online>. Panggung permainan ini adalah sebuah kastil raksasa yang terdiri dari 100 lantai.
Para player hidup di sebuah dunia dengan hutan dan danau, hanya mengandalkan pedang dan kemampuan mereka untuk menemukan rute untuk menuju ke lantai atas dan mengalahkan monster yang tak terhitung jumlahnya untuk membuka jalan menuju lantai teratas.
<Magic> yang dianggap merupakan bagian yang tidak bisa digantikan dari fantasy MMORPGs telah dihilangkan dan skill yang tidak terhitung jumlahnya yang bernama <Sword Skills> dibuat. Itu mungkin adalah salah satu rencana untuk membuat para player bisa merasakan pengalaman dari pertarungan dengan tubuh mereka sendiri melalui full dive sebanyak mungkin.
Skill nya bervariasi termasuk skill produksi seperti pandai besi, penjahit, dan kemampuan sehari-hari seperti memancing, memasak, dan bermain musik, mengizinkan player tidak hanya berpetualang di dalam game besar ini tetapi juga benar-benar <hidup> didalamnya. Jika mereka mau, dan skill level mereka cukup tinggi, mereka bisa membeli rumah dan hidup sebagai pengembala domba.
Saat informasi ini disampaikan, rasa antusias para gamer menjadi semakin tinggi.
Beta test nya hanya mengajak seribu orang pencoba. Katanya, ada seratus ribu orang, setengah dari jumlah Nerve Gears yang terjual saat itu, ingin menjadi pencobanya. Keberuntungan adalah satu-satunya alasanku bisa terpilih. Selain itu, beta tester mendapat keuntungan tambahan karena diberikan prioritas ketika game nya sudah resmi keluar.
Dua bulan beta testing terasa seperti mimpi saja. Di sekolah, aku selalu memikirkan tentang susunan skill ku, equipment dan item, dan lari langsung ke rumah segera setelah sekolah berakhir dan log in hingga subuh. Beta test nya berakhir dalam sekejap mata, dan di hari dimana characterku direset, aku merasa kehilangan yang sangat besar seperti setengah tubuh asliku menghilang.
Dan sekarang-11 November 2022, Minggu.
<Sword Art Online> setelah semua persiapannya telah selesai, jam 1 siang resmi memulai server service nya.
Tentu saja, aku telah menunggu selama 30 menit dan langsung log in tanpa menunggu sedetikpun, tapi ketika aku mencheck keadaan servernya, sembilan ribu lima ratus orang lebih sudah log in. Sepertinya semua orang yang beruntung mendapatkan gamenya merasakan hal yang sama denganku. Semua situs penjualan online mengumumkan kalau gamenya terjual habis tepat setelah penjualan dibuka dan penjualan offline, yang dimulai sejak kemarin, telah terbentuk barisan orang yang mengantri lebih dari empat hari, membuat keributan yang cukup hingga bisa masuk dalam berita. Itu berarti semua orang yang beruntung bisa membeli kaset game nya hampir semuanya adalah penggemar game serius.
Kelakuan Klein menunjukan semua ini dengan jelas. Setelah aku log kedalam SAO, Aku mulai berlari melalui jalan batu yang sudah kukenal di <Starting City> untuk menuju ke toko senjata. Menyadari kalau aku adalah seorang beta tester setelah melihatku memulai dan berlari tanpa ragu, Klein berlari kearahku. “Hey, ajarkan aku beberapa hal!” dia memohon. Aku heran kenapa dia bisa begitu tidak tahu malu dan memohon ke orang yang baru dia temui. Aku kehilangan kata-kata ku karena takjub.
“Ah, er, kalau begitu…bagaimana kalau kita ke toko senjata dulu?” Aku menjawabnya seperti seorang NPC; kami akhirnya membuat sebuah party, dan aku mulai mengajarinya beberapa dasar bertarung—dan itulah mengapa kami berakhir seperti ini.
Sebenarnya, aku tidak terlalu akrab dengan orang di dunia nyata atau di dalam game, bahkan mungkin lebih sedikit di dalam game dibanding dengan di dunia nyata. Selama beta testing aku mengenal beberapa orang, tapi aku tidak terlalu dekat dengan mereka hingga tidak bisa menyebut mereka sebagai teman.
Tapi Klein punya sisi yang agak bersahabat, dan aku juga tidak berpikir kalau itu tidak mengenakkan. Berpikir kalau aku mungkin bisa akrab dengannya, aku membuka mulutku.
“Jadi…apa yang mau kau lakukan sekarang? Apa kau mau terus berburu hingga kau terbiasa?”
“Tentu! …itu yang mau kubilang, tapi…”
Mata Klein melihat kearah bawah kanan dari penglihatannya. Dia pasti sedang memastikan waktu.
“…yah, aku harus log off dan makan. Aku memesan pizza untuk jam 5:30.”
“Benar-benar sudah mempersiapkan segalanya.”
Aku tidak bisa mengatakan hal lain, Klein membusungkan dadanya.
“Tentu saja!” dia berkata begitu dengan bangga. “Aku sudah janji untuk bertemu beberapa teman di <Starting City> sebentar lagi. Aku bisa memperkenalkan beberapa dari nmereka dan kau bisa mendaftarkan mereka sebagai teman. Dengan begitu kau bisa kapanpun mengirim pesan. Bagaimana?”
“Errr… Hmmm…,” Tanpa sadar aku bergumam.
Aku agak akrab dengan Klein, tapi tidak ada jaminan kalau aku bisa akrab dengan teman-temannya. Aku merasa kalau kemungkinannya lebih besar kalau aku tidak akan bisa akrab dengan mereka, dan sebagai akibatnya, aku juga tidak bisa berteman dengan Klein lagi.
“Haruskah aku…?”
Terlihat mengerti alasanku menjawab dengan tidak begitu yakin, Klein menggelengkan kepalanya.
“Ah, aku tidak bermaksud memaksamu. Lagipula akan ada kesempatan lain untuk memperkenalkan mereka.”
“…yeah. Maaf, dan terima kasih.”
Segera setelah ku berterima kasih padanya, Klein menggelengkan kepalanya sekuat mungkin.
“Hey, hey! Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Aku menerima banyak bantuan darimu. Aku akan membalas jasamu lain kali. Kalau kita ketemu lagi.”
Klein tersenyum dan melirik kearah jam sekali lagi.
“…yah, aku akan log off sebentar. Terima kasih banyak, Kirito. Sampai jumpa lagi.”
Dengan itu, dia menaruh tangannya kedepan. Saat itu, kupikir orang ini pasti adalah seorang pemimpin yang hebat di dalam <game lain> dan bersalaman dengannya.
“Yeah, sampai jumpa.”
Kami melepaskan tangan masing-masing.
Itu adalah saat dimana Aincrad, atau Sword Art Online, berhenti menjadi sebuah game yang menyenangkan bagiku.
Klein berjalan mundur sedikit dan menempelkan jari tengah dan jempol tangan kanannya lalu menarik kebawah..
Ini adalah hal yang perlu dilakukan untuk memanggil <main menu window>. Segera setelahnya terdengar suara berdering dan muncul sinar kotak berwarna ungu.
Aku menyingkir sedikit dan duduk di sebuah batu lalu membuka menu ku juga. Aku mulai menggerakkan jariku untuk menyusun item yang kudapat setelah bertarung dengan boar tadi.
Lalu.
“Eh?” Klein berkata dengan nada yang aneh.
“Apa ini? …tidak ada tombol log out nya.”
Saat itu aku berhenti menggerakkan jariku dan mengangkat kepalaku.
“Tidak ada tombolnya…? Mustahil, coba lihat lebih jelas.”
Aku berkata dengan sedikit bingung. Dia membuka matanya lebar-lebar di bawah bandannanya dan mendekatkan kepalanya ke menu. Kotaknya lebih panjang kesamping daripada keatas, dan mempunyai sekumpulan tombol di bagian kiri serta sebuah gambaran karakter yang menunjukkan equipment yang kau pakai di bagian kanan. Di bagian bawah menu ada tombol <LOG OUT> yang digunakan untuk keluar dari dunia ini.
Ketika aku kembali melihat kearah list yang menunjukkan itemsyang kudapat setelah beberapa jam bertarung, Klein mulai berbicara dengan nada yang tinggi tidak seperti biasanya.
“Benar-benar tidak ada. Coba lihat Kirito.”
“Sudah kubilang tidak mungkin tidak ada disana…” aku bergumam sambil menghela napas lalu mengklik ke tombol di bagian kiri atas untuk kembali ke menu screen.
Inventory window dibagian kanan menutup dan kembali ke menu utama. Di sebelah kiri dari gambar karakter, yang masih memiliki banyak tempat kosong, tersusun tombol-tombol.
Aku menggerakkan tangan ku kebawah seperti biasa dan—
Tubuhku membatu.
Tidak ada.
Seperti yang dikatakan Klein, tombol yang ada disana ketika beta test—tidak, bahkan tombol yang masih ada ketika aku logged on—telah menghilang.
Aku memandangi tempat kosong itu selama beberapa detik, lalu melihat ke seluruh bagian menu, memastikan kalau itu bukan dipindahkan saja posisinya. Klein melihatku dengan kata “Benarkan?” tertulis diwajahnya.
“…tidak ada, kan?”
“Yeah, tidak ada.”
Aku mengangguk, meski itu agak menjengkelkan untuk langsung setuju dengannya. Klein tersenyum dan mulai mengusap-usap dagunya yang tebal.
“Yah, ini kan hari pertama, jadi bug seperti itu mungkin terjadi. Seharusnya sekarang para GM sedang kewalahan dengan jumlah pesan yang membanjiri inbox nya,” Klein berkata dengan tenang.
“Apakah tidak apa-apa kalau kau hanya berdiri saja seperti itu? Kau bilang kalau kau memesan pizza, ya kan?” Aku sedikit menggodanya.
“Ah, benar juga!”
Aku tersenyum saat melihatnya kepanikan, dan membuka matanya lebar-lebar.
Aku melempar beberapa item yang tidak kuperlukan dari inventory, yang telah menjadi merah karena terlalu banyak item didalamnya, lalu aku berjalan kearah Klein.
“Argh! pizza ikan teri dan ginger ale ku-!”
“Kenapa kau tidak coba menghubungi GM? Mereka mungkin bisa memutuskan hubungan servermu dari sana.”
“Sudah kucoba, tapi tidak ada respon sama sekali. Ini sudah pukul 5:25! Hey, Kirito! Apa tidak ada cara lain untuk log out?” Setelah mendengarkan apa yang Klein katakan sambil melambaikan tangannya—
Wajahku menjadi kaku. entah kenapa aku merasa takut dan merinding di punggungku.
“Coba kupikir…untuk log out…” Aku berbicara sambil berpikir.
Untuk keluar dari virtual reality ini dan kembali ke kamarku, aku harus membuka menu, menejkan tombol log out dan menekan yes di window yang muncul disebelah kanan. Itu sangat simpel. Tapi-pada saat yang sama, selain prosedur itu, aku tidak tahu cara lain untuk log out.
Aku melihat ke wajah Klein, yang berada sedikit lebih tinggi dari wajahku dan menggelengkan kepalaku.
“Tidak…tidak ada. Jika kau mau log out, kau harus menggunakan tombol di menu, selain itu tidak ada cara lain.”
“Itu mustahil…pasti ada suatu cara!”
Klein tiba-tiba mulai berteriak seperti kalau dia tidak mempercayai kata-kataku.
“Return! Log out! Escape!”
Tapi tentu saja, tidak ada yang terjadi. Di SAO tidak ada perintah suara seperti itu.
Setelah dia berteriak ini dan itu dan bahkan melompat, Aku berbicara padanya.
“Klein, itu sia-sia. Bahkan di manual tidak tertulis apapun tentang pemutusan akses darurat.”
“Tapi…ini gila! Bahkan jika ini adalah bug, aku bahkan tidak bisa kembali ke kamarku semauku!” Klein berteriak dengan ekspresi bingung diwajahnya.
Aku sangat setuju dengannya.
Ini mustahil. Benar-benar non-sense. Tapi ini kebenaran yang tidak bisa dibantah.
“Hey…apa-apaan ini? Ini benar-benar aneh. Sekarang, kita tidak bisa keluar dari game ini!"
Klein tertawa menyedihkan dan mulai berbicara lagi.
“Tinggu, kita cukup mematikannya saja. Atau lepas saja <Gear> nya.”
Ketika aku melihat Klein menggerakkan tangannya, yang bergerak seperti sedang melepas sebuah helm yang tidak terlihat, aku merasa kalau kegelisahanku kembali.
“Itu mustahil, dua-duanya. Sekarang ini kita tidak bisa menggerakkan tubuh asli kita. <Nerve Gear> nya menerima semua sinyal yand dikirim dari otak kita dan mengirimkannya kemari…” Aku memegang bagian belakang kepalaku. “… dan menyampaikannya ke avatar kita disini.”
Klein perlahan-lahan menutup mulutnya dan menurunkan tangannya.
Kami berdua berdiri tanpa berbicara selama beberapa saat, saling berpikir.
Untuk mendapat keadaan Full Dive, Nerve Gear memblokir semua sinyal yang dikirim oleh otak kita dan mengirimkannya kemari supaya kita bisa mengontrol avatars kita di dunia ini. Jadi, berapa liarpun aku menggerakkan tubuhku disini, tubuhku di dunia nyata, yang sedang terbaring di kasur sekarang tidak akan bergerak sedikitpun; memastikan kalau aku tidak akan membenturkan kepalaku ke sisi meja atau apapun.
Tapi karena fungsi ini, kita tidak bisa bebas keluar dari kondisi Full Dive.
“…jadi, selain bug nya di perbagiki atau seseorang dari dunia nyata melepaskan Gear nya, kita hanya bisa menunggu?” Klein bergumam, terlihat sedikit pusing.
Aku diam-diam setuju dengannya.
“Tapi aku tinggal sendiri. Kau?”
Aku sedikit ragu-ragu tapi aku mengatakan yang sebenarnya padanya.
“…Aku tinggal dengan ibu lku dan adik perempuanku, bertiga. Kupikir aku pasti akan di paksa keluar dari kondisi Dive jika aku tidak berhenti saat makan malam…”
“Apa? Be-Berapa umur adik perempuan mu?”
Klein tiba-tiba melihat kearahku, matanya bercahaya. Aku mendorong kepalanya menjauh.
“Kau agak tenang sekarang, ya kan? Dia anggota klub olahraga dan membenci game, jadi dia tidak mungkin bisa akrab dengan orang seperti kita…tapi daripada itu,” aku membentangkan tangan kananku untuk mengganti jalan pembicaraannya. “Apa kau tidak berpikir kalau ini aneh?"
“Tentu saja. Ini kan bug.”
“Bukan, maksudku bukan hanya bug saja, ini adalah bug <mustahil log out>, ini masalah yang cukup besar yang bisa membuat pengoperasian game itu sendiri terganggu. Seperti pizza mu di dunia nyata yang semakin mendingin setiap detik, ini benar-benar merugikan keuangan, ya kan?"
“…sebuah pizza dingin…itu sama saja dengan natto keras!”
Aku mengabaikan komentar yang tidak berarti itu dan melanjutkan pembicaraan.
“Jika sudah seperti ini, seharusnya operator akan segera mematikan server nya dan me-log out semua orang apapun yang terjadi. Tapi…ini sudah lebih dari 15 menit sejak kita menyadari hal ini dan belum ada satupun system message yang muncul, meski kita abaikan penghentian servernya, ini sudah terlalu aneh."
“Hmm, sekarang kupikir-pikir kau benar juga."
Sekarang Klein mulai mengusap dagunya dengan ekspresi serius diwajahnya. Di bagian bawah bandanna yang menutupi dahinya, pengetahuan terpancar didalam matanya.
Aku mulai mendengarkan Klein, merasa sedikit aneh berbicara dengan orang yang belum pernah kutemui jika aku menghapus account ku.
“…perusahaan yang membuat SAO, <Argas> adalah perusahaan yang terkenal karena sangat memperhatikan penggunanya, ya kan? Itulah kenapa orang-orang berebutan membeli kasetnya meskipun ini adalah game online pertamanya. Semua itu akan sia-sia jika mereka membuat kesalahan seperti ini di hari pertamanya."
“Aku setuju, and SAO adalah VRMMORPG pertama. Jika ada sesuatu yang salah sekarang, mereka pasti akan segera memperbaikinya."
Klein dan aku melihat wajah virtual masing-masing dan menghela napas.
Musim di Aincrad dibuat berdasarkan kenyataan, jadi sekarang disini juga sedang memasuki musim gugur. aaaaa
Aku melihat keatas, menghirup udara virtual, menarik napas dingin yang dalam.
Sekitar 100 meter diatas aku bisa melihat atap berwarna ungu muda yang merupakan bagian bawah dari lantai 2. Sambil mengikuti permukaannya yang tidak rata, aku melihat menara besar—the <labyrinth> yang merupakan jalan menuju ke lantai atas, dan melihatnya terhubung dengan jalan keluarnya.
Saat itu jam 5:30 lewat dan garis kecil di langit yang terlihat berwarna merah seperti matahari terbenam. Meski berada di situasi seperti ini, melihat padang rumput luas yang berwarna keemasan karena memantulkan sinar matahari sore, aku menemukan diriku tidak bisa berbicara di depan keindahan dunia virtual ini
Tepat sesudahnya.
Dunia berubah selamanya.



